Sampel
terbagi menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.
- Probability Sampling terdiri
dari 4 (empat) macam yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a)
Simple Random Sampling. Dikatakan simple (sederhana)
karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2011:64).
b)
Proportionate Stratified Random Sampling. Teknik ini digunakan bila
populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara
proporsional (Sugiyono, 2011:64). Contoh: Suatu perusahaan memiliki pegawai
dengan pendidikan berstrata lulus (S1 = 50 orang; S2 = 30 orang; SMK = 800
orang; SMA = 400 orang; dan SD = 300 orang). Maka contoh pengambilan sampel
dengan teknik ini adalah dengan asumsi 10% dari populasi masing-masing
strata yang diambil. Jadi dari S1 diambil 5 orang (acak), S2 diambil 3
orang (acak), SMK diambil 80 orang (acak), SMA diambil 40 orang (acak), dan SD
diambil 30 orang (acak). Maka total sampel yang diambil adalah 5+3+80+40+30 =
158 orang.
c)
Disproportionate Stratified Random Sampling. Teknik ini digunakan untuk
menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional
(Sugiyono, 2011:64). Contoh: Suatu perusahaan memiliki pegawai dengan
pendidikan berstrata lulus (S1 = 50 orang; S2 = 30 orang; SMK = 800 orang; SMA
= 400 orang; dan SD = 300 orang). Maka pengambilan sampel dengan teknik ini
dilakukan secara bebas (seenaknya) yaitu S1 diambil 50 orang atau semua
populasi S1 dan S2 diambil 30 orang atau semua populasi S2. Sementara kelompok
strata yang lain diabaikan karena jumlah populasinya terlalu besar. Sehingga
total sampel yang digunakan adalah 50 + 30 = 80 orang.
d)
Cluster Sampling (Area Sampling). Teknik sampling daerah digunakan untuk
menentukan sampel bila obyek yang akan sangat luas (Sugiyono, 2011:65). Contoh:
Di kota Banyuwangi terdapat 30 SMP sebagai populasi. Karena itu pengambilan
sampelnya ditentukan sebesar 15 SMP saja dengan pemilihan secara random (acak).
Teknik sampel ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) tahap penentuan sampel
daerah, dan (2) tahap penentuan orang-orang yang ada di daerah itu.
2.
Nonprobability
Sampling terdiri
dari 6 (enam) macam yang akan dijabarkan sebagai berikut ini:
a)
Sampling Sistematis. Sampling Sistematis adalah teknik
pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi
nomor urut (Sugiyono, 2011:66). Misalnya jumlah populasi 100 orang dan
masing-masing diberi nomor urut 1 s/d 100. Sampelnya dapat ditentukan dengan
cara memilih orang dengan nomor urut ganjil (1,3,5,7,9,…, dst) atau memilih
orang dengan nomor urut genap (2,4,6,8,…,dst).
b)
Sampling Kuota. Sampling Kuota adalah teknik untuk
menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah
kuota yang diinginkan (Sugiyono, 2011:67). Misalnya ingin melakukan penelitian
tentang pendapat mahasiswa terhadap layanan kampus. Jumlah sampel yang
ditentukan adalah 500 mahasiswa. Kalau pengumpulan data belum mencapai kuota
500 mahasiswa, maka penelitian dipandang belum selesai.
c)
Sampling Insidental. Sampling Insidental adalah tekik
penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel,
bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data
(Sugiyono, 2011:67).
d)
Sampling Purposive. Sampling Purposive adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011:68). Teknik ini
paling cocok digunakan untuk penelitian kualitatif yang tidak melakukan
generalisasi. Misalnya penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber
datanya adalah orang yang ahli makanan atau ahli gizi.
e)
Sampling Jenuh. Sampling Jenuh adalah teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono,
2011:68). Hal ini sering digunakan untuk penelitian dengan jumlah sampel
dibawah 30 orang, atau untuk penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan
tingkat kesalahan yang sedikit atau kecil.
Misalnya jika jumlah populasi 20 orang, maka 20 orang tersebutlah yang dijadikan sampel.
Misalnya jika jumlah populasi 20 orang, maka 20 orang tersebutlah yang dijadikan sampel.
f)
Snowball Sampling. Snowball Sampling adalah teknik
penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar (Sugiyono,
2011:68). Misalnya suatu penelitian menggunakan sampel sebanyak 10 orang,
tetapi karena peneliti merasa dengan 10 orang sampel ini datanya masih kurang
lengkap, maka peneliti mencari orang lain yang dirasa layak dan lebih tahu
tentang penelitiannya dan mampu melengkapi datanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar